You are here
Home ›Tidak ada Pengorbanan bagi Sistem ini: Melawan Perang dan Segala bentuk Nasionalisme
Krisis kapitalis semakin memburuk, dengan Perang Dunia semakin menjadi suatu kenyataan. Krisis berkurangnya nilai-lebih ini mengakibatkan kompetisi antar-kapitalis menjadi kontestasi antar-negara. Setiap negara terlibat dalam pergulatan pada tatanan imperialisme. Satu-satunya ‘cara keluar’ adalah dengan kehancuran massal kapital, dengan harapan memulai babak baru dalam menghasilkan keuntungan.
Solusi yang mereka tawarkan hanyalah secara umum peperangan Imperialisme.
Meskipun berjanji akan perdamaian, gencatan senjata atau “Dewan Perdamaian”, perang imperialis berlanjut dengan menyebar ke seluruh penjuru bumi, dari Ukraina, Sudan, Kongo, Asia Selatan, Gaza, ataupun Iran, dan juga perang dagang antara AS dan Kuba yang tengah berlangsung. Tidak hanya itu, sistem kapitalis melakukan pembantaian dengan bertambahnya belanja militer yang meningkatkan persenjataan. Saat profit stagnan, kelas penguasa rela mengorbankan penderitaan manusia. Mereka siap untuk mengarahkan sistem ini pada jurang barbarisme yang tak terbayangkan.
Perang di Ukraina dan Asia Barat tengah mengonsolidasikan aliansi imperialis dan mengutarakan kepentingannya; Kondisi yang bisa saja menjadi preseden untuk Perang Dunia. AS mempersiapkan diri berperang melawan Cina dengan berusaha untuk merusak aliansi kepentingan antara Cina-Rusia-Iran. Selama berdekade, AS telah melihat Cina sebagai ancaman utama atas ekspansi imperialisnya. Kebijakan rezim Trump terhadap Cina tidak jauh berbeda dengan kebijakan strategis Obama dan Biden. Siapa pun politisi yang menakhodai Gedung Putih, kebijakan proteksionis dan sanksi untuk melukai ekonomi dan militer Cina serta menarget sekutu Cina adalah persiapan bipartisan menuju perang. Pertempuran antara AS dan Cina hanya meningkat dengan tekanan dari kompetisi imperialis. AS sangat terdorong untuk menghancurkan rivalnya saat krisis profitabilitas kian anjlok.
Mesin perang AS di seluruh penjuru dunia adalah bagian dari persiapan perang melawan Cina. Dengan berusaha untuk mengeliminasi sekutu Cina seperti Venezuela, Kuba, Iran, dan Rusia, mereka bersiap untuk pertempuran utama. Di Amerika Latin, di mana Cina telah meningkatkan pengaruhnya dalam 20 tahun terakhir, Trump mengirim pesan dengan menculik Presiden Venezuela: Nicolas Maduro, dan ancaman yang semakin besar untuk Kuba. Perang yang brutal di Ukraina telah diambil alih oleh NATO untuk melukai Rusia dan mengisolasi Cina. Perang tak berkesudahan yang diinisiasi oleh AS dan Israel di Asia Barat dapat dilihat sebagai contoh strategi untuk melawan Cina – dengan lemahnya sekutu seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthis, lalu mengisolasi Iran. Strategi ini akan dibalas: Perang yang berdarah-darah akan berlanjut. Setiap kapitalis, terlepas dari bangsanya, diberi insentif untuk mematuhi akumulasi kapital, sehingga sebagai kelas mereka memilih perang alih-alih stagnasi yang berkelanjutan.
Pekerja di mana pun berada dipaksa berhadapan dengan kekerasan, privatisasi, kematian dan pembuangan di saat pembantaian berskala global kian meningkat. Kelas pekerja di mana pun juga dibuat membayar harga atas krisis profitabilitas kapitalisme yang tidak berujung yang disebabkan oleh perang imperialis dan barbarisme. Negara mempersenjatai diri, memilih “senjata alih-alih pangan”. Senjata inilah yang akan memenangkan mereka saat profit berkurang di mana hanya sedikit yang didapat dari eksploitasi kapitalis dari yang biasanya. Dana untuk belanja militer di Jerman dan Italia bertambah dua kali lipat dalam lima tahun terakhir sedangkan di Prancis umur pensiun dinaikkan untuk mengimbangi bujet perang.
Pekerja mengalami situasi sosial yang kolaps – kita merasakannya setiap hari saat gaji kita dipotong inflasi sementara beban kerja meningkat, saat biaya pangan dan hidup kita tidak terjangkau atau saat kita dikecualikan dari program kesejahteraan. Yang paling buruk adalah bangsa kita menuntut kita untuk berperang melawan saudara sesama kita kelas pekerja di negara lain. Apa yang negara ini telah perbuat bagimu? Apa sebenarnya negara itu? Kita tidak berhutang apa pun padanya – melainkan tenaga-kerja kita yang dieksploitasi untuk kepentingan negara kita. Situasi ini ada pada setiap negara – kelas kapitalis dunia bersatu dalam eksploitasi proletar. Semua perang adalah imperialis dan reaksioner dan tidak ada kondisi dengannya di mana bagi proletar kecuali eksploitasi berkelanjutan, penghinaan, dan pengorbanan sehingga musuh kelas kita dapat memberikan perawatan intensif bagi sistem kapitalis yang sekarat.
Bagi proletar, tak ada negara yang bisa didukung. Meskipun mereka bersembunyi dalam slogan “anti-imperialis”, mereka yang mendukung perang berarti mendukung satu kapitalis melawan kapitalis lainnya. Sejak awal perang imperialisme pada Perang Dunia Pertama, kelas kapitalis hanya memainkan peran reaksioner dan melawan dengan gigih untuk keberlangsungan sosial kapital negaranya. Semua organ-diri proletar dihancurkan untuk mempertahankan negara yang sebenarnya adalah keuntungan. Represi domestik meningkat secara tajam terhadap pekerja yang dapat dilihat dari setiap peperangan dan reaksi negara terhadap pekerja di Ukraina, Iran, Gaza, dan Asia Barat. Di AS dan negara imperialis lainnya bersiap dengan mempersenjatai diri untuk perang, represi dan xenofobia mendisiplinkan pekerja dengan menciptakan kondisi yang rentan dan mengkhawatirkan bagi pekerja agar bisa dieksploitasi.
Hanya kelas pekerja yang dapat menghentikan peperangan
Kelas pekerja – yang menjadi mayoritas di planet ini – adalah satu-satunya kekuatan yang mampu untuk menghentikan kemiskinan yang berlanjut, degradasi planet bumi, dan perang skala luas. Tuntutan ekonomi pekerja berkontradiksi dengan dorongan kapitalis untuk berperang. Saat pekerja berjuang untuk gaji tinggi, kondisi kerja yang aman, jam kerja lebih pendek, atau manajemen kerja yang lebih baik, mereka dihadapkan dengan resistensi yang kuat dari pemberi kerja dan negara mereka. Di beberapa negara, pemerintah menyatakan mogok kerja ilegal atas nama pertahanan negara, sedangkan di lapangan, negara kapitalis yang sedang berperang menempatkan pekerja pada penderitaan dalam ekonomi perang. Serangan kapitalis terhadap standar hidup pekerja secara langsung mempunyai karakter politik. Ketika kelas pekerja melancarkan serangan balik itu juga bagian politis, yang mempunyai karakter anti-kapitalis, di mana mereka akan mempunyai alat yang diperlukan untuk mengakhiri siklus pembantaian imperialis selamanya.
Pembantaian massal pada Perang Dunia Pertama diakhiri dengan pemberontakan, pembangkangan, dan pemogokan. Kekalahan Revolusioner (Revolutionary Defeatism) menjadi konkret saat, di Rusia, kelas proletar mengorganisir diri dalam bentuk Dewan dan merebut kuasa dengan mengakhiri perseteruan kapitalis dan demonstrasi massa di Berlin dan Vienna pada tahun 1918 juga berujung pada berakhirnya peperangan. Hal ini ditandai dengan dimulainya gelombang revolusioner internasional yang mengagetkan kapitalisme hingga titik fondasinya. Spontanitas dan aksi independen dari kelas adalah hal yang penting dan perlu. Meski begitu, perlu dicatat bahwa hal tersebut diperlukan namun tidak cukup untuk mengakhiri sistem kapitalis. Tanpa kekuatan revolusioner terorganisir yang mampu menyediakan gerakan anti-kapitalis dengan arah politik dan perspektif revolusioner, segala pembangkangan dengan sendirinya berisiko diserap oleh kekuatan kapital. Partai revolusioner, di sisi lain, yang telah berjuang untuk menggaet rekognisi dan memantapkan posisinya di dalam kelas melalui partisipasi aktif dalam perjuangan kelas, dapat berfungsi sebagai poin referensi politik revolusioner dan bekerja untuk memastikan kelas pekerja tidak berhenti di tengah jalan. Saat persiapan teoritis dan praktis dari revolusioner yang terorganisir dikombinasikan dengan kapasitas kelas untuk berjuang dan berorganisasi, sistem ini dapat diakhiri.
Hari ini kita mendapati kondisi kita berbeda dengan masa lampau dan masih jauh dalam membentuk partai komunis internasional. Meski begitu, kondisi fundamental dalam eksploitasi kapitalis masih sama. Hal ini tidak juga memudahkan tugas kita untuk bekerja menuju terbentuknya partai revolusioner internasional. Sebagaimana Lenin mengamatinya dengan cermat:
“Kita dapat mengganti taktik agitasi dalam isu yang partikular, atau taktik untuk mengerjakan tugas tertentu dari organ partai, dalam 24 jam; namun untuk mengubah pandangan kita dalam 24 jam - atau bahkan dalam 24 bulan– dalam hal organ yang berjuang dan agitasi politik di antara massa itu selalu diperlukan, tanpa melihat kondisi, adalah perspektif orang yang tidak mempunyai prinsip. Sungguh menggelikan dengan tidak berpikir bahwa dalam setiap periode yang baru: upaya untuk menciptakan organisasi perjuangan dan melakukan agitasi politik mutlak diperlukan dalam setiap situasi, betapa pun ‘banal dan damainya’ situasi tersebut, dalam setiap periode, betapa pun ‘semangat revolusioner telah ‘melemah’; lebih dari itu: justru dalam situasi dan periode seperti itulah pekerjaan di atas sangat diperlukan, karena di saat masa eksplosif dan pergolakan terjadi maka sudah terlambat untuk menciptakan sebuah organ; dengan begitu organ tersebut harus siap untuk segera bertindak.”
Kutipan tersebut telah dikonfirmasi oleh pengalaman historis kelas kita. Tidak adanya partai revolusioner yang berdiri memiliki konsekuensi dramatis bagi Revolusi Jerman pada tahun 1918-1919. Kelas pekerja telah sukses menjatuhkan Kekaisaran Jerman. Namun kini, sosial-demokrat, dengan aktor yang memiliki agenda politik yang berbeda. Mereka menampilkan diri sebagai “partai massa sosialis” yang moderat. Pada kenyataannya, mereka bertindak tidak sebagai sayap moderat gerakan buruh melainkan sayap kiri kapital. Mereka menggantikan perjuangan kelas dengan ‘hukum dan tatanan’, dewan parlemen, dan revolusi dengan reformasi. Ketika jendela revolusi masih terbuka, kondisi inilah yang akan terjadi dalam absennya partai kelas pekerja. Saat mayoritas kelas-pekerja dilemahkan secara politis dan dibungkam dengan berbagai manuver, sebagai pengganti dari Republik Weimar, kekuatan politik ini memberikan kebebasan untuk kelompok proto-fasis Freikorps dalam melawan elemen radikal. Teror berdarah ini menjadi landasan untuk kediktatoran fasisme setelahnya.
Kekalahan Revolusi Jerman memiliki konsekuensi yang fatal bagi gelombang revolusioner internasional. Terisolasinya Revolusi Rusia pada akhirnya berujung pada transformasi sebaliknya – berdirinya kediktatoran kapitalisme negara, yang di hadapan para reaksioner dianggap sebagai “negara sosialisme”.
Apa yang harus dilakukan?
Pengalaman traumatis Stalinisme telah membuat banyak kebingungan, dan di saat yang sama telah secara signifikan memberikan amunisi pada kelas penguasa dalam propaganda ideologis. Kekalahan telak abad 20 telah melemahkan solidaritas kelas dan spirit perjuangan kita, hasilnya perjuangan bertahan yang berhasil sangat jarang dan menghadapi tantangan berat. Kuasa kapital tampak tidak terbendung. Kesempatan politik revolusioner untuk punya basis di perjuangan kelas tidak begitu bagus. Organisasi politik yang memperjuangkan prinsip internasionalis dari revolusi proletar hanya punya pengaruh kecil terhadap perjuangan kelas pekerja secara luas. Ini adalah ekspresi dari – meskipun salah satu yang signifikan – kelemahan utama kelas kita.
Dengan begitu, kita perlu mengamini dan secara jelas mengartikulasikan bahaya dari perang imperialis dan kelemahan utama dari politik revolusioner. Perbedaan politik antar para revolusioner merefleksikan isu riil. Meski begitu, kita tidak bisa hanya tertahan dalam polemik dan perdebatan yang berkepanjangan.
Alih-alih terpuruk dalam kritik dan perselisihan yang tak terarah, bagi kami, untuk benar-benar mengatasi kontroversi antara para revolusioner diperlukan kehidupan baru dalam kelas pekerja, melalui isu politik yang diangkat dari perjuangan dan membentuk basis untuk persatuan antar para revolusioner; karena hanya dengan dinamika konkret dari perjuangan kelas – tidak lagi sporadis dan dalam insiden yang terisolasi, namun dalam skala massa – berbagai posisi teoritis dan politis yang turun dari “surga” mendapatkan konfirmasi atau pembuktian teorinya dari realitas materiil dalam perjuangan kelas itu sendiri. Bagi mereka yang berpikir bahwa mereka punya monopoli tunggal atas kebenaran akan jatuh pada ketidakrelevanan.
Meski dengan kelemahan kelas kita saat ini, ada kebutuhan akut untuk menegaskan prinsip internasionalis dan menolak segala bentuk nasionalisme untuk bersatu dalam suatu tujuan. Di mana pun perang dilancarkan, perjuangan kelas tidak dipungkiri berbenturan dengan persiapan perang yang ada. Hal ini memungkinkan posisi internasionalis diambil-alih dalam perjuangan – khususnya di antara militan terdepan dari kelas – bahwa perjuangan melawan kelas kapitalis ditempatkan pada agenda politik kita. Dengan begitu, kami menegaskan kembali posisi dan dukungan kami terhadap komite ‘Tiada Perang selain Perang Kelas’ No War But Class War (NWBCW), yang bersamaan dengan ini membawa para revolusioner dalam basis internasionalisme dengan tujuan untuk mengintervensi dalam perjuangan lokal. Meski mereka bukan substitusi bagi partai maupun jalan menuju formasinya, komite ini dapat mengorganisasi respon politik dari perang imperialis yang melampaui kapabilitas organisasi individual.
Basis kerja sama kami, yang mengambil sikap jelas dengan berbasis kelas dan mengecualikan warisan politik demokrasi sosial (baru dan lama) dan kontra-revolusi Stalinis, termasuk turunan lainnya seperti Stalinisme, Maoisme, dan Trotskyisme – posisi kami adalah sebagai berikut:
- Melawan kapitalisme, imperialisme, dan segala bentuk nasionalisme! Tidak ada dukungan untuk borjuis nasional, ‘setan yang lebih kecil’, atau pun negara berkembang!
- Bagi masyarakat di mana negara, upah kerja, kepemilikan pribadi, uang, dan produksi berbasis-profit digantikan oleh dunia dengan produsen yang berasosiasi secara bebas
- Melawan serangan ekonomi dan politik yang dilancarkan oleh perang di saat ini dan di masa depan terhadap kelas pekerja
- Bagi perjuangan mandiri kelas pekerja, bagi pembentukan komite pemogokan independen, perhimpunan massa, dan dewan pekerja!
- Melawan penindasan dan eksploitasi, bagi persatuan kelas pekerja dan aliansi Internasionalis sejati!
Kami sekali lagi menyerukan kepada semua pihak yang sepakat dengan posisi politik ini dan menyadari betapa seriusnya situasi saat ini untuk membentuk komite-komite tersebut di wilayah mereka atau bergabung dengan komite yang sudah ada.
ICT sections
Basics
- Bourgeois revolution
- Competition and monopoly
- Core and peripheral countries
- Crisis
- Decadence
- Democracy and dictatorship
- Exploitation and accumulation
- Factory and territory groups
- Financialization
- Globalization
- Historical materialism
- Imperialism
- Our Intervention
- Party and class
- Proletarian revolution
- Seigniorage
- Social classes
- Socialism and communism
- State
- State capitalism
- War economics
Facts
- Activities
- Arms
- Automotive industry
- Books, art and culture
- Commerce
- Communications
- Conflicts
- Contracts and wages
- Corporate trends
- Criminal activities
- Disasters
- Discriminations
- Discussions
- Drugs and dependencies
- Economic policies
- Education and youth
- Elections and polls
- Energy, oil and fuels
- Environment and resources
- Financial market
- Food
- Health and social assistance
- Housing
- Information and media
- International relations
- Law
- Migrations
- Pensions and benefits
- Philosophy and religion
- Repression and control
- Science and technics
- Social unrest
- Terrorist outrages
- Transports
- Unemployment and precarity
- Workers' conditions and struggles
History
- 01. Prehistory
- 02. Ancient History
- 03. Middle Ages
- 04. Modern History
- 1800: Industrial Revolution
- 1900s
- 1910s
- 1911-12: Turko-Italian War for Libya
- 1912: Intransigent Revolutionary Fraction of the PSI
- 1912: Republic of China
- 1913: Fordism (assembly line)
- 1914-18: World War I
- 1917: Russian Revolution
- 1918: Abstentionist Communist Fraction of the PSI
- 1918: German Revolution
- 1919-20: Biennio Rosso in Italy
- 1919-43: Third International
- 1919: Hungarian Revolution
- 1920s
- 1921-28: New Economic Policy
- 1921: Communist Party of Italy
- 1921: Kronstadt Rebellion
- 1922-45: Fascism
- 1922-52: Stalin is General Secretary of PCUS
- 1925-27: Canton and Shanghai revolt
- 1925: Comitato d'Intesa
- 1926: General strike in Britain
- 1926: Lyons Congress of PCd’I
- 1927: Vienna revolt
- 1928: First five-year plan
- 1928: Left Fraction of the PCd'I
- 1929: Great Depression
- 1930s
- 1931: Japan occupies Manchuria
- 1933-43: New Deal
- 1933-45: Nazism
- 1934: Long March of Chinese communists
- 1934: Miners' uprising in Asturias
- 1934: Workers' uprising in "Red Vienna"
- 1935-36: Italian Army Invades Ethiopia
- 1936-38: Great Purge
- 1936-39: Spanish Civil War
- 1937: International Bureau of Fractions of the Communist Left
- 1938: Fourth International
- 1940s
- 1950s
- 1960s
- 1970s
- 1969-80: Anni di piombo in Italy
- 1971: End of the Bretton Woods System
- 1971: Microprocessor
- 1973: Pinochet's military junta in Chile
- 1975: Toyotism (just-in-time)
- 1977-81: International Conferences Convoked by PCInt
- 1977: '77 movement
- 1978: Economic Reforms in China
- 1978: Islamic Revolution in Iran
- 1978: South Lebanon conflict
- 1980s
- 1979-89: Soviet war in Afghanistan
- 1980-88: Iran-Iraq War
- 1982: First Lebanon War
- 1982: Sabra and Chatila
- 1986: Chernobyl disaster
- 1987-93: First Intifada
- 1989: Fall of the Berlin Wall
- 1979-90: Thatcher Government
- 1980: Strikes in Poland
- 1982: Falklands War
- 1983: Foundation of IBRP
- 1984-85: UK Miners' Strike
- 1987: Perestroika
- 1989: Tiananmen Square Protests
- 1990s
- 1991: Breakup of Yugoslavia
- 1991: Dissolution of Soviet Union
- 1991: First Gulf War
- 1992-95: UN intervention in Somalia
- 1994-96: First Chechen War
- 1994: Genocide in Rwanda
- 1999-2000: Second Chechen War
- 1999: Introduction of euro
- 1999: Kosovo War
- 1999: WTO conference in Seattle
- 1995: NATO Bombing in Bosnia
- 2000s
- 2000: Second intifada
- 2001: September 11 attacks
- 2001: Piqueteros Movement in Argentina
- 2001: War in Afghanistan
- 2001: G8 Summit in Genoa
- 2003: Second Gulf War
- 2004: Asian Tsunami
- 2004: Madrid train bombings
- 2005: Banlieue riots in France
- 2005: Hurricane Katrina
- 2005: London bombings
- 2006: Comuna de Oaxaca
- 2006: Second Lebanon War
- 2007: Subprime Crisis
- 2008: Onda movement in Italy
- 2008: War in Georgia
- 2008: Riots in Greece
- 2008: Pomigliano Struggle
- 2008: Global Crisis
- 2008: Automotive Crisis
- 2009: Post-election crisis in Iran
- 2009: Israel-Gaza conflict
- 2006: Anti-CPE Movement in France
- 2010s
- 2010: Greek debt crisis
- 2011: War in Libya
- 2011: Indignados and Occupy movements
- 2011: Sovereign debt crisis
- 2011: Tsunami and Nuclear Disaster in Japan
- 2011: Uprising in Maghreb
- 2014: Euromaidan
- 2017: Catalan Referendum
- 2019: Maquiladoras Struggle
- 2010: Student Protests in UK and Italy
- 2011: War in Syria
- 2013: Black Lives Matter Movement
- 2014: Military Intervention Against ISIS
- 2015: Refugee Crisis
- 2016: Brexit Referendum
- 2018: Haft Tappeh Struggle
- 2018: Climate Movement
- 2020s
People
- Amadeo Bordiga
- Anton Pannekoek
- Antonio Gramsci
- Arrigo Cervetto
- Bruno Fortichiari
- Bruno Maffi
- Celso Beltrami
- Davide Casartelli
- Errico Malatesta
- Fabio Damen
- Fausto Atti
- Franco Migliaccio
- Franz Mehring
- Friedrich Engels
- Giorgio Paolucci
- Guido Torricelli
- Heinz Langerhans
- Helmut Wagner
- Henryk Grossmann
- Karl Korsch
- Karl Liebknecht
- Karl Marx
- Leon Trotsky
- Lorenzo Procopio
- Mario Acquaviva
- Mauro jr. Stefanini
- Michail Bakunin
- Onorato Damen
- Ottorino Perrone (Vercesi)
- Paul Mattick
- Rosa Luxemburg
- Vladimir Lenin
Politics
- Anarchism
- Anti-Americanism
- Anti-Globalization Movement
- Antifascism and United Front
- Antiracism
- Armed Struggle
- Autonomism and Workerism
- Base Unionism
- Bordigism
- Communist Left Inspired
- Cooperativism and Autogestion
- DeLeonism
- Environmentalism
- Fascism
- Feminism
- German-Dutch Communist Left
- Gramscism
- ICC and French Communist Left
- Islamism
- Italian Communist Left
- Leninism
- Liberism
- Luxemburgism
- Maoism
- Marxism
- National Liberation Movements
- Nationalism
- No War But The Class War
- PCInt-ICT
- Pacifism
- Parliamentary Center-Right
- Parliamentary Left and Reformism
- Peasant movement
- Revolutionary Unionism
- Russian Communist Left
- Situationism
- Stalinism
- Statism and Keynesism
- Student Movement
- Titoism
- Trotskyism
- Unionism
Regions
User login

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.

